Sejarah Desa Pringgaseala
Pringgasela berasal dari kata “ PRINGGA “ dan “ SELA “ PRINGGA “ artinya Prajurit dan “ SELA “ artinya Batu.Jadi PRINGGASELA artinya PRAJURIT BATU.
Asal Penduduk Desa Pringgasela.
Konon pada suatu hari terjadilah sengketa diantara keluarga Raja Selaparang yang akhirnya menimbulkan perpecahan yang tak terelakkan. Akibatnya sepihak dari keluarga Raja menyingkirkan diri dan sepakat meninggalkan kerajaan dan meneruskan perjalanan ke Pulau Sumbawa. Disana mereka diterima baik oleh Raja Sumbawa yang kebetulan pada saat itu Raja sangat membutuhkan bantuan untuk mengalahkan musuh-musuhnya yang pada suatu saat menyerangnya. Keluarga Raja yang baru dating ini bersedia membantu asal saja Raja Sumbawa mau memberikan mereka suatu daerah tempat menetap. Raja Sumbawa memberikan menetap dan dari tempat itu mereka setia membantu Raja Sumbawa menghadapi musuhnya dan selalu menang.
Kembali ke Tanah Leluhur
Setinggi – tinggi bangau terbang hinggapnya kekubangan juga. Demikian keluarga selaparang ini telah mupakat untuk kembali ke tanah leluhur mereka. Kemudian minta diri pada Raja Sumbawa dengan perasaan yang sangat berat mereka dilepaskan sembari memberikan pengiring 44 ( empat puluh ) orang untuk menemani mereka dalam perjalanan menuju tanah leluhur.
Mereka menyeberang Selat Alas dan akhirnya sampailah di Pelabuhan ( Labuhan Haji Sekarang ) kemudian mereka istirahat di suatu tempat bernama SISIK. Setelah beberapa istirahat mereka melanjutkan perjalanan dan sampailah mereka disuatu tempat yang bernama PAO’ PAMPANG ( Sebelah Utara Labuhan Haji ) pada pertigaan sekarang ) disinilah mereka istirahat untuk memadu janji. Mereka berjanji meneruskan perjalanan mencari tanah leluhur dengan membagi diri menjadi 4 ( empat ) Kelompok ( termasuk pengiring ikut dibagi ) dengan ketentuan tiap kelompok mencari jalan sendiri dan siapa yang menemukan tanah leluhur itu merekalah yang harus mencari kelompok yang lain untuk dapat bersatu kembali. Akhirnya tiap kelompok itu sampailah pada suatu tempat:
- Kelompok Pertama sampailah pada suatu tempat yang bernama “ RUMBUK “
- Kelompok kedua sampailah disuatu tempat yang bernama “ SESELA “
- Kelompok ketiga sampailah disuatu tempat yang bernama “ TEMANJOR “
- Kelompok keempat sampailah disuatu tempat yang bernama “ PRINGGASELA “
Zaman Kekuasaan Raja Karang Asem
Pada penghujung abad ke 19 Pulau Lombok dikuasai oleh Raja Karang Asem ( Bali ) Desa pringgasela terlibat didalamnya malah bukan saja dikuasai tetapi diduki langsung. Kita mengenal Gubu Karang dalem, Gubuk Maksan ( RW Aman ) Gubuk Gadeng ( RW Damai ) adalah tempat pendudukan/ perkampungan pemerintah yang berkuasa di Zaman itu.Pemerintah Desa berjalan seperti biasa tetapi dibawah naungan Pemerintah Kerajaan.
Pejabat Kepala Desa pada waktu itu adalah:
- AMAQ SERIGAWI ( ± Tahun 1937 ) kemudian diganti oleh
- AMAQ GURAYANG ( ± Tahun 1940 ) sampai timbulnya perlawanan ( congah ) dari rakyat terhadap Pemerintah Kerajaan.
Timbulnya perlawanan rakyat ini akibat dari tindakan Pemerintah Kerajaan yang menaikkan pajak ( Natura ) yang sangat dirasakan berat oleh rakyat. Perlawanan ini sampai pula di Desa-desa dan tidak ketinggalan Desa Pringgasela. Tetapi karena desa Pringgasela langsung dikuasai/diduduki oleh Pemerintah Kerajaan yang menyebabkan posisi dari pemimpin perlawanan rakyat sangat sulit dan tidak menguntungkan maka diambillah langkah-lanmgkah penyelamatan dengan jalan mengungsi kedesa-desa yang dianggap lebih aman disebelah kali Belimbing seperti : Aikmel, Mamben, Pringgabaya dan sekitarnya peristiwa ini disebut : “ KARUT “.
Berakhirnya Pemerintah Kerajaan
Setelah perang cakranegara berakhir Pemerintah Kerajaan Karang Asem menderita kekalahan, yang berarti di satu sisi Pemerintah Jajahan ( Belanda ) mulai bercokol dan memperkuat diri dibumi seaparang ini sedangkan di ssis lain kejadian ini memberi peluang kepada para pengungsi untuk kembali ke tanah leluhur mereka.
Demikianlah secara berangsur-angsur mereka datang berbondong-bondong menempati kampong halaman mereka serta memngolah sawah dan ladang mereka yang telah lama dirindukan. Kedatangan mereka disambut dengan perlawanan yang tidak berarti dari Pemerintah Kerajaan yang sesungguhnya sudah sangat lemah dan banyak dari mereka melarikan diri sedangkan sisanya yang bersedia hidup berdampingan serta diantaranya mau masuk Agama Islam tetap tinggal di Pringgasela Desa mulai diatur dan pejabat Kepala Desa pada waktu itu secara periodic berganti-ganti.
Zaman Penjajahan Jepang
Kalau pada Penjajahan Belanda kita kenal Peraturan Tanam Paksa ( Culture Stelsel ) maka pada Zaman Jepang kita kenal Kerja Paksa ( ROMUSA ) yang kesemuanya ini mendatangkan kemelaratan, kesengsaraan dan kemiskinan pada rakyat. Penduduk dipaksa menanam/bekerja untuk kepentingan Pemerintah Jajahan dan bila tidak mau mereka disiksa, dirampas hak milik mereka atau mau dibunuh. Diseluruh tanah air demikian keadaannya. Nah sadar akan keadaan yang demikian itulah Desa Pringgasela pada zaman Jepang diadakan kader-kader perjuangan bangsa. Pemuda-pemuda dilatih dan dibekali dengan ilmu pengetahuan serta semangan cinta bangsa. Mereka bernaung dalam satu wadah yang disebut “BASMI” dibawah pimpinan kepala desa Pringgasela pada waktu itu “RAWISAH” Gerakan rakyat akhirnya dicium oleh pemerintah Jepang sehingga pemimpin BASMI ditangkap kaerna dianggap berbahaya.
Selanjutnya Penjabat Kepala Desa Pringgasela diganti oleh AMAQ MAHDAH sampai awal zaman seribu kemerdekaan. Walapun demikian pemimpin BASMI sudah ditangkap keadaannya sehingga kegiatan untuk membasmi penjajah tetap dilakukan di bawah pimpinan SAYYID SALEH dan kawan-kawan. Secara bergeliria mereka menggempur kubu kekuasaan Jepang seperti di Timbanuh, Lendang Marang/ Berang Panas dll.
Pajar kemerdekaan telah menyingsing
Menarik untuk kita catat bahwa tanggal 15 Agustus 1945 Bom Atom mendesing di Kota Hirosima dan Nagasaki. Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Kekalahan Jepang dalam perang pacific ini menjadi peluang baik bagi Bangsa Indonesia untuk memroklamirkan kemerdekaan yang telah lama di dambakan dan diperjuangkan. Demikianlah dua hari kemudian tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia menyataka kemerdekaanya. Seluruh rakyat Indonesia menyambut dengan gembira, nemun beberapa lama kemudian gangguan dan rintangan datang silih berganti. Tentara sekutu gabungan yang menang mulai mendarat di Surabaya dan beberapak kota penting di seluruh nusantara termasuk kota Selong didudukinya. Alasan mereka akan melucuti dan melindungi tentara jepang padahal dibalik itu mereka membonceng tentara Belanda yang ingin menjajahkembali.
Desa pringgasela setelah kemerdekaan
Pendarata tentara sekutu/ gabungan di Indonesia khususnya di Selong di pandang sangat berbahaya. Sebab itu para pejuang yang tergabung dalam “BASMI” serta organisasi pejuang lainnya bersatu padu sepakat untuk menyerang kubu pertahanan tentara gabungan yang terletak di tengah-tengah kota Selong (tepatnya di Gedung Juang Sekarang).
Musyawarah terakhir di kediaman H. MUHAMMAD telah diputuskan bahwa penyerangan dilakukanpada malam hari Sabtu tanggal 1946 di Pimpin oleh SAYYID SALEH dan H. MUHAMMAD FAESAL.
Pada saat yang telah ditentukan mereka berkumpul di Desa Pringgasela untuk bersama-sama berangkat ke kota Selong. Dalam pertempuran ini gugurlah Sayyid Saleh, H. Muhammad faiesal dan Abdullah masing-masing dari Pringgasela, pancor dan Rempung. Selanjutnya walaupun dalam keadaan perang serta Negara yang masih sangat muda namun pemerintahan berjalan seperti biasa. Setiap pergantian pejabat ( Kepala Desa ) dilakukan secara wajar dan demokrasi.
Adapun Pejabat Kepala Pringgasela dengan Nomor Urut sebagai berikut :
- AMAQ SERIGAWI ( Priode Tahun 1937- 1939 )
- AMAQ GURAYANG ( peiode tahun 1940-1945 )
- RAWISAH ( Kepala Desa Terpilih Priode Tahun 1945-1948 )
- AMAQ MAHDAH ( Kepala Desa Terpilih Proide Tahun 1948-1950 )
- AMAQ MENAH ( Kepala Desa Terpilih Tahun 1950-1960 )
- MUHAMMAD NASRI ( Kepala Desa Terpilih Priode 1960-1963 )
- MASHUR HAMNUR( Kepala desa Terpilih Priode Tahun 1963-1979 )
- MUHAMMAD ALIM ( Kepala Desa Terpilih Priode 1979-1987 )
- RAHIMAH ( kepala Desa Terpilih Priode Tahun 1987-1996 )
- WAHI YAKUB Kepala desa terpilih Tahun 1996-2005 )
- HAMSIN ( Kepala Desa terpilih Priode Tahun 2005-2009 )
- ABDURRAHIM, S.IP ( Pjs. Kepala Desa Tahun 2009 )
- LALU ALUSI ( Kepala Desa Terpilih Priode Tahun 2009-2015 )
- SALMAN ALFARISI, SH.M.AP (Pjs. Kepala Desa tahun 2015 )
- MALADI, SH ( Penjabat kepala Desa tahun 2015-2017 )
- MUL’AN (Kepala Desa Terpilih Priode 2017-2023)
- AZIZAN ZOHRI,S.T ( Kepala Desa Terpilih Priode 2023- Sekarang)